Mahasiswa, Kembalilah ke Jalan Kita Sesungguhnya
(Oleh: Faisol*)
Mahasiswa! Apa sebenarnya mahasiswa? Banyak sekali istilah yang bisa disematkan terhadap mahasiswa. Ada juga yang menyebut bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan, serta berbagai istilah ‘hero’ lainnya. Namun, secara sederhana kita pasti akan sangat sepakat bahwa mahasiswa adalah seorang pelajar di perguruan tinggi. Ya, perguruan tinggi. Sebuah tempat belajar yang disebut dengan kampus. Di sinilah para mahasiswa itu belajar. Mahasiswa sebenarnya, bukanlah sembarang pelajar. Hal ini bisa kita kaji dari etimologi kata’ mahasiswa’ yang berasal dari kata ‘maha’ dan ‘siswa’. Maha adalah sesuatu yang sangat-kalau tidak paling -tinggi. So, mahasiswa adalah pelajar yang tinggi pemahamannya, pengalamannya, intlektualnya dan tentunya mazhab kerasionalannya. Dan, akan lebih indah lagi, jika tinggi etikanya. Begitulah idealnya. Tapi sesuatu yang ideal ternyata tidak selalu sesuai dengan fakta yang ada.
Akhir-akhir ini citra mahsiswa di masyarakat sudah semakin tidak baik. Mahasiswa di mata mereka, identik dengan anarkistis. Kita sebagai mahasiswa tidak boleh merasa tidak terima ketika ada hipotesa seperti itu muncul di kalangan masyarakat. Karena kalau kita mau realistis, walaupun tidak semua mahasiswa seperti itu, kita tentunya bisa memaklumi anggapan masyarakat awam yang kacamata penilaian mereka adalah pada hal yang sering tampak dan terekspos di mata mereka. Kita mesti bisa memahami, walau tidak sepenuhnya bisa membenarkan pernyataan sementara itu. Itu maksud saya. Karena rumusnya adalah, masyarakat menilai berdasarkan bukti. Lalu apa buktinya kalau mahasiswa itu identik dengan tindakan anarkistis.
Mari kita buktikan!
Namun, sebelum itu saya ingin mengatakan, tulisan saya ini tidak ingin bertujuan mencari-cari kesalahan ataupun membeberkan aib-aib mahasiswa. Alasannya sederhana saja, saya kan juga mahasiswa.. Jadi, tidak mungkin jika saya membuka aib saya sendiri. Kan sirruka asiruka, idza takallamta bihi sirta asirahu, rahasiamu adalah tawananmu. Jika kamu membeberkannya, maka kamulah yang jadi tawanannya. Maka perlu ditegaskan di sini, bahwa tulisan ini adalah sebagai nasihat dari seorang rekan, layaknya nasihat teman satu kost kepada temannya yang lain, ketika temannya itu ribut di waktu malam ataupun pulang di atas jadwal yang telah jadi kesepakatan. Atau, mungkin perumpamaan tulisan saya ini adalah seperti nasihat seorang adik kepada abangnya yang lupa shalat karena keasyikan mengerjakan tugas akademisnya. Seperti itulah perumpamaannya. Sederhana saja kan. Tapi saya yakin bahwa rekan-rekan mahsiswa akan mudah memahaminya. Karena seseorang yang cerdas dan jenius sudah cukup mengerti dengan suatu perumpamaan saja. Bahkan, walaupun perumpamaan itu terkesan anekdot, seperti perumpamaan semut, nyamuk ataupun lebah sekali pun, akan lebih mudah dicerna oleh akal mahasiswa yang cemerlang dengan berbagai teori ilmiah.
Sekarang, rasanya sudah tepat bagi saya untuk kembali pada pembuktian tadi.
Mari kita buktikan!
Pertama, tentang demonstrasi.
Lalu bagaimana jika mahasiswa dikaitkan dengan aksi demo? Apakah demo adalah satu-satunya cara dalam menyampaikan aspirasi? Apakah anarkisme bisa dianggap sebagai satu-satunya jalan sportif untuk mengkritisi kredibelitas pemerintah? Dan, yang paling penting, apakah layak sesuatu yang mengganggu ketentraman masyarakat, disebut sebagai hal atau aksi yang mengatasnamakan masyarakat? Apakah itu rasional? Bukankah paham mahasiswa adalah rasional.
Maksud saya, begini, katakanlah di sini kita membuat semacam rumus silogisme seperti berikut:
Mahsiswa adalah pelajar yang berpemikiran ilmiah (rasional-empiris)
Mahsiswa adalah ‘pahlawan’ yang memperjuangkan kepentingan rakyat/masyarakat
Lalu apakah rasional jika mhasiswa melakukan tindakan yang mengganggu ketentraman masyarakat
Anda jangan salah paham dulu ketika saya mengeluarkan pernyataan yang sedikit berbau sensitif ini! Walau, memang mungkin pernyataan ini sedikit mengarah pada demonstrasi yang akhir-akhir ini terjadi di Makasar. Memang, pernyataan saya ini juga sedikit diniatkan untuk membahas hal itu. Tapi jangan dianggap sepenuhnya untuk itu. Ini saya ungkapkan justru karena ingin mengajak kepada rekan-rekan mahasiswa agar tidak terlalu ‘gila’ memahami jabatan mahasiswa yang kita sandang, dengan menghalalkan berbagai cara dalam menyampaikan aspirasi. Masih banyak cara untuk menyampaikan protes pada pemerintah. Bukankah kita adalah seorang muslim? Sadarkah bahwa kita adalah mahasiswa? Selain itu, agar ke depannya kita bisa lebih berhat-hati dalam bertindak, agar tidak terlalu meluap-luap. Tujuannya sederhana saja, yaitu agar tidak menimbulkan fitnah. Bukankah menjaga muruah atau citra kita sebagai seorang pelajar itu adalah lebih utama daripada ambisi untuk mendapatkan apresiasi agar kita diakui keberadaannya.
Saya, tidak ingin terlalu ‘sok tahu’ dengan hakikat aksi di Makasar. Saya tidak ingin menghakiminya; apakah itu kurang benar, tidak benar atau salah. Saya tidak punya kapasitas untuk itu. Karena saya bukan Tuhan. Tapi, walaupun saya tidak punya kapasitas untuk menelusuri hal itu secara hakikatnya, tapi sebagai manusia, sebagai seorang muslim, juga sebagai sesama mahasiswa, saya merasa sangat terpanggil untuk menjustnya secara dzahir. Sebab, disebutkan dalam kaidah ushul, nahnu nahkumu bidzdzawahir wallahu yatawalla bissaraair. Kita mempunyai hak untuk menghukumi yang dzahir, sedangkan Tuhan yang mengurus masalah batin.
Maka, izinkanlah di sini, saya untuk menilai aksi itu secara dzahir. Kalaupun seandainya ada penyampaian yang salah dalam tulisan ini, tolong jangan dihakimi, karena Anda...., oh maaf..., maksud saya, kita bukan Tuhan. Lagi pula kita tentu sangat tahu bahwa tulisan adalah salah satu hal yang diperbolehan untuk ‘berbicara’ di negeri ini, layaknya kami sangat menghargai apa yang kalian lakukan. Jadi, perlu kita sepakati bahwa rumus yang kita gunakan di sini adalah: marilah kita saling berkarya (baik dengan aksi ataupun dengan tulisan), selanjutnya biarlah Allah, Rasul dan orang-orang mukmin yang melihat, menilai karya kita.
Lebih jelasnya begini, memang Tuhan memberikan izin bagi kita untuk menempuh jalan hidup yang kita yakini. Namun tentu ada formulanya. Tidak sembarangan. Begitulah sederhananya. Ya, jangan sembarangan. Kita kan mahsiswa. Amboi, kita mahsiswa. Bukan anak TK.
O ya, saya di sini tidak menyalahkan aksi yang mengatasnamakn rakyat. Yang saya fokuskan di sini adalah caranya. Ya, caranya boi. Karena Islam adalah ‘solusi’ yang menawarkan tujuan yang baik dan etika yang benar. Ya kan..?
Selanjutnya, kita tidak boleh berlebihan dalam bertindak. Karena Tuhan tidak suka yang berlebihan atau melampaui batas. Dalam aksi jihad saja Rasul diwanti-wantikan oleh Allah agar jangan berlebihan.
Mari kita kembali ke pembicaraan kita sebelumnya, yaitu Tuhan memberikan izin bagi kita untuk menempuh jalan hidup yang kita yakini. Namun tentu ada formulanya, yaitu, bagaimana kira-kira Allah menilai tindakan kita itu? Bagaimana tindakan kita itu jika dibandingkan dengan yang dicontohkan Rasul? Menyimpang atau tidak? Dan, manfaat apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat?
Selanjutnya, kita renungkan. Kemudian catat, apa saja yang memang diridhai Allah, karena Dia-lah yang mempunyai hak mengarahkan kita. Mana yang dicontohkan Rasul? Karena beliaulah yang jadi qudwah, contoh utama kita. Bukankah beliau adalah suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan ridha Allah dan meyakini bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari Kiamat. Ya, kalau tujuan dari aksi itu adalah bukan untuk meraih ridha Allah, atau dengan kata lain, hanya karena ambisi agar dianggap ada andil dan eksistensinya, wajar saja jika kita tidak mencontoh Rasul. Tapi, pasti kita mengharapkan ridha Allah donk dengan aksi kita itu. Kan Al-Qur’an dan Hadis adalah pedoman kita. Kemudian yang terakhir, sejauh mana manfaat atau bahkan mungkin mudharat yang ditimbulkan dari apa yang kita lakukan? Karena kita sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa muslim, tentu sangat fasih melafdazkan hadis, khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
O ya, ada lagi pernyataaan tambahan ne. Ada sebuah teks yang sangat tinggi nilai sastranya, yaitu: apabila dikatakan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan, mereka berkata, kami tidak berbuat kerusakan, justru kami mebuat perbaikan. Eh.. eh.. ingat..ingat, sebenarnya mereka itu adalah orang yang membuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari.
Kedua, tentang tawuran.
Beberapa hari yang lalu, saya membaca surat kabar tentang tawuran antar fakultas di salah satu perguruan tinggi di Pontianak. Secara pribadi, saya sangat menyesalkan kejadian itu walaupun saya tidak terlibat di dalamnya. Mengapa semakin banyak kejadian yang akan menjadi bukti teori-kalau bukan hukum-di mata masyarakat, bahwa mahsiswa identik dengan kerusuhan. Maaf, sekali lagi saya katakan, tidak semuanya seperti itu. Karena saya tahu dan paham sebagai sesama mahasiswa. Katakanlah pernyataan saya ini adalah sebagai informasi kepada rekan-rekan mahaiswa tentang penilaian masyarakat kepada kita. Tujuannya adalah agar kita bisa mengevaluasi diri supaya ke depannya bisa lebih baik. Seperti itulah tepatnya.
Wahai rekan-rekan mahasiswa, jika kita masih suka berbuat kerusuhan, maka ‘ketajaman pisau’ kita sebagai pengontrol kekuasaan pemerintah semakin hari akan tumpul. Mungkin para pemegang kekuasaan itu akan beranggapan, bahwa mahasiswa sebaiknya jangan mengkrtik pemerintah, karena mahsiswanya sendiri masih belum baik. Lalu, masalah ini akan semakin ribet jika penguasa yang kita kritisi adalah orang/oknum yang memang tidak suka kepada mahsiswa. Tentunya mereka akan mencari-cari kesalahan kita untuk kemudian menyerang balik. Itu yang saya khawatirkan.
Dan, yang paling penting, janganlah buat rakyat semakin kecewa. Dekade terakhir ini rakyat kan sudah sering dikecewakan oleh para wakilnya yang duduk manis di kursi DPR sana. Maka, saat ini kitalah sebagai mahasiswa yang jadi harpan ‘satu-satunya’ bagi mereka. Selain kita punya pengetahuan akademis, sebagai mahasiswa kan citra keberpihakan pada rakyat masih ada dalam jati dri kita. Itu amanah. Jangan kecewakan rakyat ya.
Wahai saudaraku, inilah jalan kita. Marilah kita lewat di sini. Janganlah lewat di jalan yang aneh-aneh yang akan menyebabkan kita dan rakyat terpisah jauh.
Jalan yang saya maksud adalah, keberpihakan kepada kebenaran dan rakyat, karena goal dari tugas kita dalam menuntut ilmu adalah memilki pemahaman yang benar dan berbagi manfaat dengan masyarakat/rakyat.
Sekian
Salam sejahtera bagi para mahsiswa yang berjuang untuk kebenaran dengan etika yang benar.
Penulis, Mahasiswa Jurusan Dakwah, Prodi Kominikasi Penyiaran Islam STAIN Pontianak
(Sudah dimuat di Harian Pontiank Post, Edisi Rabu 17 Maret 2010-setelah melalui proses editing)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar